Aku tak ingin disebut sebagai seorang penyair. Sebab tulisan-tulisanku yang konon mirip puisi itu kerap memikat perhatian orang-orang terutama para perempuan. Ya, mereka ternyata menyukai tulisan yang menurutku tak lebih dari curahan hati ABG. Padahal usiaku hampir menginjak kepala tiga. Suatu hari, ada seorang sahabat yang menawarkan bantuannya untuk menerbitkan puisiku ke sebuah koran regional. Awalnya aku menolak, tapi karena dia terus mendesak akhirnya aku pun mencoba peruntungan itu. Tanpa kuduga, tiga puisi pertamaku tembus meja redaksi. "Yess,"batinku. Sejak saat itulah, puisi-puisi berikutnya bermunculan hingga aku memiliki beberapa buku antologi baik yang tunggal maupun bersama para penyair terkenal. Sampai suatu ketika, aku menghadiri sarasehan budaya di kota kelahiranku seorang wartawan sebuah televisi swasta mewawancaraiku "Wah Mas penyair tentunya banyak fans dari...
Lebih Baik Jadi Kutu Buku Daripada Jadi Kutu Loncat