Langsung ke konten utama

Postingan

PENYAIR JOMBLO

     Aku tak ingin disebut sebagai seorang penyair. Sebab tulisan-tulisanku yang konon mirip puisi itu kerap memikat perhatian orang-orang terutama para perempuan. Ya, mereka ternyata menyukai tulisan yang menurutku tak lebih dari curahan hati ABG. Padahal usiaku hampir menginjak kepala tiga.       Suatu hari, ada seorang sahabat yang menawarkan bantuannya untuk menerbitkan puisiku ke sebuah koran regional. Awalnya aku menolak, tapi karena dia terus mendesak akhirnya aku pun mencoba peruntungan itu. Tanpa kuduga, tiga puisi pertamaku tembus meja redaksi. "Yess,"batinku.      Sejak saat itulah, puisi-puisi berikutnya bermunculan hingga aku memiliki beberapa buku antologi baik yang tunggal maupun bersama para penyair terkenal. Sampai suatu ketika, aku menghadiri sarasehan budaya di kota kelahiranku seorang wartawan sebuah televisi swasta mewawancaraiku           "Wah Mas penyair tentunya banyak fans dari...

PEREMPAN YANG JAUH CINTA PADA PUISIKU

Aku lupa bertanya siapa nama perempuan yang tinggal dalam puisiku padahal hampir di setiap kesempatan kami berdua ngobrol sangat akrab layaknya sepasang kekasih memang, aku jatuh hati padanya tapi tak ada kalimat yang tepat aku takut, kalau ia pergi dari puisiku perempuan itu hadir, saat puisi pertamaku lahir ia sangat keibuan menimang puisiku, seperti anaknya sendiri padahal kutahu ia masih sangat suci puisi yang kutulis, membuatku cemburu perempuan itu, jatuh cinta padanya suatu hari kutemukan mereka tengah bercumbu mesra di depan mata keduanya bercinta dalam puisiku. Tumiyang, 02082016

KATAMU "HIDUP ADALAH PILIHAN"

Hidup adalah pilihan tidak memilihpun merupakan satu pilihan kenapa memaksa harus memilih? padahal kau sendiri yang berkata: "Hidup adalah pilihan." dan aku memilih untuk tidak memilih kenapa kau tetap memaksa aku untuk memilih padahal hidup itu pilihan biarkan aku memilih untuk tidak memilih meski kau selalu bilang "Hidup adalah pilihan." aku tak peduli, sebab aku memilih untuk tidak memilih bukan ini bukan golput bukan ini bukan tentang kotak suara bukan ini bukan tentang kartu suara bukan ini bukan tentang calon-calon bukan ini bukan tentang pilihan bukan ini bukan tentang perempuan-perempuan bukan ini bukan tentang cinta bukan ini bukan tentang siapa-siapa bukan ini bukan tentang apa-apa bukan ini bukan tentang sesuatu bukan ini bukan itu bukan itu bukan ini ini bukan itu bukan itu bukan ini bukan ini itu bukan itu ini bukan bukan itu ini bukan ini itu siapa yang dipilih tak ada yang dipilih meski ada yang dipilih tapi memilih untuk...

OBROLAN BERSAMA MARK DI BERANDA FACEBOOK

by:  Pensil Kajoe "Apa yang Anda pikirkan, Pensil?" tanya Mark setiap hari. "Aku memikirkan dia, Mark. Bisakah Kau sampaikan salamku padanya?" jawabku. "Ah Kau ini, Pensil. Bukankah Kau tahu akun facebooknya?" "Oh iya ding." "Nah, Kau bisa kirim messanger ke orang yang Kau maksud. Itu lebih privasi." "Itulah masalahnya, Mark." "Apa?" "Hp androidku tak cukup memori untuk mendownload apk. itu." "Oh..." "Kenapa Mark? Kok jawabanmu seperti mengejek gitu?" "Ah tidak kok. Mungkin itu perasaanmu saja yang terlalu baper. Yahh aku sih maklum." "Maksudnya?" "Ya maklum saja, Kau ini kan jomblo. Apalagi ini saturday night. Di saat mereka asyik dengan kekasihnya, Kau malah asyik dengan makhluk buatanku." "Sudahlah, Mark. Kau jangan meledekku seperti itu. Justru karena aku asyik dengan ciptaanmu ini, Kau sendiri yang untung dan kaya ...

TAYANGAN TELEVISI Vs MORALITAS ANAK

      Dewasa ini televisi bukan lagi barang mewah, hampir setiap rumah memiliki benda yang satu ini, baik yang satu ini. Baik televisi berwarna ataupun hitam putih, dengan resolusi layar LED atau hanya televisi tabung biasa. Melalui layar gelas tersebut, seseorang bisa menonton program-program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi yang ada, baik televisi pemerintah atau televisi swasta lokal dan nasional semua dengan mudah bisa masuk ke ruang keluarga apalagi didukung oleh layanan televisi kabel. Otomatis tayangan program-program asing lebih leluasa tanpa adanya sensor.        Masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 35 jam bahkan lebih dalam seminggu hanya untuk menonton gambar bergerak dari sebuah kotak ajaib. Memang, pengaruh televisi begitu besar sehingga mampu menghipnotis seseorang untuk berlama-lama duduk di depan layar kaca, dan urusan lain terbengkalai.      Kita tahu, televisi juga mempunya nilai positif  ter...

PUISI

PADA DINDING KAMAR Ada sebuah peta di dinding kamar dengan tanah bak pelangi dan rimbunnya hutan tropis mirip harum manis inikah negeri dongeng yang pernah kudengar waktu kecil dulu? melihatmu bermahkota untaian bunga gaun yang kau pakai membuatmu seperti Cinderela meski tanpa sepatu kaca Dik, pijakkan kedua kakimu di atas tanah basah sisa hujan semalam hanya membuat kakimu kotor itu lebih baik daripada dunia mengotori hatimu jangan terlena dengan warna-warna indah yang kau lihat itu hanya fatamorgana bersihkan lagi dinding kamarmu sewarna awan putih lihatlah, dari balik awan matahari bersinar cerah menerpa dinding kamarmu. 19102016

PUISI 123

/1/ Sepotong sepi Kudapan pagi hari Saat puisi belum lahir Kau lebih dulu pergi. 03112017 /2/ Yang Yang Yang Yang Yang Ah mabuk kepayang 03112017 /3/ Lepaskan! It’s time to hunting New chick. 03112017 /4/ “Yang, ke Meikarta yuk?” “Kau mimpi ya?” “Boleh kan aku bermimpi?” “Tentu boleh.” “Kalau begitu, bawa aku ke Meikarta.” “Baiklah, ayo kita tidur.” “Loh?” “Biar cepat mengantar ke mimpi Meikartamu itu.” 03112017 /5/ Perempuan itu Memesan puisi Padaku Haruskah kujual kata-kata Untuk memikatnya? 03112017 /6/ Janji sakti Ketika ditagih Pura-purasakit 04112017 /7/ Wangi kertas tua Pada surat-suratmu Dengan sekeping prangko Ada stempel pos daerahmu Aku merindukan cerita Aku tak tahu Di m...