Dewasa ini televisi bukan lagi barang mewah, hampir setiap rumah memiliki benda yang satu ini, baik yang satu ini. Baik televisi berwarna ataupun hitam putih, dengan resolusi layar LED atau hanya televisi tabung biasa. Melalui layar gelas tersebut, seseorang bisa menonton program-program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi yang ada, baik televisi pemerintah atau televisi swasta lokal dan nasional semua dengan mudah bisa masuk ke ruang keluarga apalagi didukung oleh layanan televisi kabel. Otomatis tayangan program-program asing lebih leluasa tanpa adanya sensor.
Masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 35 jam bahkan lebih dalam seminggu hanya untuk menonton gambar bergerak dari sebuah kotak ajaib. Memang, pengaruh televisi begitu besar sehingga mampu menghipnotis seseorang untuk berlama-lama duduk di depan layar kaca, dan urusan lain terbengkalai.
Kita tahu, televisi juga mempunya nilai positif terutama bagi perkembangan kreatifitas seorang anak. Anak dapat belajar dan memperoleh pengetahuan baru lewat channel-channel edukatif. Misalnya pada acara Pesona Fisika yang pernah tayang di TVRI, mereka diajak belajar dan memahami ilmu-ilmu fisika dengan cara yang lebih mengasikan dan tak menggurui, atau dalam Surat Sahabatku di TRANS TV; anak berkenalan dengan teman-teman se-Nusantara beserta aktivitas kesehariannya.
Namun demikian, layar gelas ini tak luput dari dampak negatif yang sangat berpengaruh pada diri seseorang terutama bagi perkembangan psikologi seorang anak. Anak menjadi pemalas, hal terburuk kalau si anak meniru adegan dalam tayangan yang ditontonnya. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, dua anak laki-laki tega memperkosa anak gadis tetangganya sendiri karena seringnya menonton adegan-adegan syur dalam film . Tragisnya, setelah melakukan perbuatan amoral tersebut, mereka tega membunuh dan membakar mayatnya. Adalagi, seorang anak perempuan berusia 10 tahun menghabisi nyawa anak balita sekadar ingin mendapatakan kalung emas. Kedua contoh di atas terjadi akibat pengaruh televisi dan kurangnya kontrol dari orang tua.
Sinetron-sinetron remaja yang menjamur hampir di setiap channel televisi, bisa dikatakan tak mengandung muatan moral . Tak lebih hanya menjadi ajang pamer, hedonitas, perkelahian, pacaran. Hal-hal berbau klenik-mistis turut memberikan bumbu penyedap. Berdalih mengangkat tema kesabaran,tawakal, kepahlawanan tapi akhirnya terjebak dalam dunia khayalan dengan hadirnya "Bidadari-bidadari" pembela kebenaran dan ujungnya justru tontonan yang sarat adegan kekerasan.
Di samping itu, kostum yan dipakai oleh para tokoh pun ada yang jauh dari nilai kesopanan, betapa tidak, seorang siswi dengan rok mini dan siswanya denan rambut gondrong tak ketinggalan anting-anting di telinganya. Itukah gambaran anak sekolah yang notabene kaum terpelajar? Bertengkar dengan guru ikut menyuburkan sikap permusuhan dan dendam.
Kenyataan konkrit mengatakan bahwa, ketika seorang anak tumbuh dewasa, sadisme dan pornografi mudah tertanam dalam benak mereka. Karena apa yang mereka lihat, itulah yang mereka tiru dan kemudian dipraktekkan. Kata orang tua kini "Tontonan dadi tuntunan, tuntunan dadi tontonan".
Di sini, peran orang tua sangat penting. Mereka hendaknya lebih bijaksana dalam mengatur waktu. Luangkanlah sedikit waktu bersama keluarga terutama anak-anak. Berikanlah perhatian pada perkembangan jiwa mereka. Ajarkan kedisiplinan dan arahkanlah ke pergaulan yang positif, dampingi saat menonton televisi sambil menjelaskan cerita yang tidak atau belum mereka pahami.
Begitu juga bagi para sineas, jangan hanya demi meraup keuntungan yang besar, mereka asal-asalan dalam membuat skenario sinetron. Ironisnya, sebuah lembaga yang bekerja untuk menyensor sebuah tayangan sinetron atau film sebelum muncul di hadapan pemirsa seringkali kecolongan oleh tayangan yang dinyatakan lulus. Namun, adegan-adegan tak senonoh tetap muncul. Mungkinkah itu suatu ketidaksengajaan yang tak kasat mata? Ataukah sensor tersebut hanya formalitas semata? Kalau sudah begitu, siapa yang salah dan dipersalahkan? Jika demikian keadaannya, saling menuding satu sama lain tentu masalah ini tak akan ada titik penyelesaiannya. Entah itu LSF, penulis skenario, pemilik stasiun teve dan seluruh elemen masyarakat harus peduli pada generasi negeri ini. Jangan racuni mereka dengan tayangan-tayangan "sampah". Bukankah televisi pada awalnya merupakan salah satu media yang berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa/
Tumiyang-Pekuncen, 2003
Komentar
Posting Komentar