METAMORFOSIS
Telur
-> Ulat -> Kepompong -> Kupu-Kupu
Bukan proses yang sederhana. Boleh dikatakan sangat
istimewa. Betapa tidak, perjalanan “to be” tersebut begitu panjang; banyak aral
rintangan di sepanjang perjalanan. Entah faktor alam atau faktor predator.
Coba perhatikan dengan seksama, ketika masih berwujud
telur, bahaya pun mulai mengintai; dari mulai dimangsa serangga atau dimusnahkan
oleh manusia. Disaat telur menetas menjadi ulat, kembali cobaan mendera, bisa
dipatuk burung dan lagi-lagi peran manusia ikut andil memusnahkannya dengan
menyemprotkan cairan beracun. Tak sedikit dari mereka yang mati, namun ada juga
diantara mereka yang dan meneruskan
perjuangannya “to be.”
Meskipun demikian, penderitaan tidak cukup sampai di situ
saja. Masih tetap berlanjut saat si ulat melakukan meditasi menyempurnakan
wujudnya, melepaskan diri dari samsara yang membelenggu. Pada akhirnya ia bisa
berteriak lantang “I’m Butterfly.” Dan hanya yang pantang menyerahlah yang
berhasil mencapai puncak ini.
Demikian seyogianya dengan mansia yang dianugerahi cipta,
rasa, dan karsa. Harus lebih tangguh dari seekor ulat. Memang, to reach the
top, must start from the bottom. Mustahil kegemilangan tanpa didahului
masa-masa suram dan pahit. Bahkan Sir Thomas Alfa Edison pun harus kegagalan
9999 kali, hanya untuk menghasilkan sebuah bola lampu. Apa jadinya jika pada
percobaan pertama gagal, dan menyerah? Tentu kita tak akan menikmati gemerlap
kota dengan sinar lampu dan rumah kita hanya akan diterangi oleh lampu minyak
atau sebatang lilin.
So, kitapun harus lebih bisa bermetamorfosis dalam
menggapai cita-cita tanpa harus minder darimana kita berasal. Tidak cukup
dengan kebulatan tekad, tapi disertai tindakan nyata serta doa.
Dare to fail, dare to
success.
01102008
00:53 WIB
Komentar
Posting Komentar