Langsung ke konten utama

PUISI 123

/1/


Sepotong sepi
Kudapan pagi hari
Saat puisi belum lahir
Kau lebih dulu pergi.

03112017
















/2/

Yang
Yang
Yang
Yang
Yang
Ah mabuk kepayang

03112017














/3/

Lepaskan!
It’s time to hunting
New chick.

03112017

















/4/

“Yang, ke Meikarta yuk?”

“Kau mimpi ya?”
“Boleh kan aku bermimpi?”
“Tentu boleh.”

“Kalau begitu, bawa aku ke Meikarta.”
“Baiklah, ayo kita tidur.”

“Loh?”
“Biar cepat mengantar ke mimpi
Meikartamu itu.”

03112017








/5/

Perempuan itu
Memesan puisi
Padaku

Haruskah kujual kata-kata
Untuk memikatnya?

03112017














/6/

Janji sakti
Ketika ditagih
Pura-purasakit

04112017

















/7/

Wangi kertas tua
Pada surat-suratmu
Dengan sekeping prangko
Ada stempel pos daerahmu
Aku merindukan cerita

Aku tak tahu
Di mana kau sekarang.

041102017











/8/


Hujan memberi petunjuk
Tentang di mana perempuan itu berada
Melihatnya, mengenakan sweater merah
Berjalan tergesa
Di remang hujan

Apa yang kau kejar?
Kemarilah, ada satu puisi untukmu.

05112017











/9/

Beri aku paket data dan Android
Akan kugetarkan hati
Para perempuan

:dengan puisi.

05112017
















/10/

Sinar matahari sebesar koin
Tepat di atas gelas kopi
Mengingatkan
Tak ada yang benar-benar gratis
Di sini.

06112017















/11/

Jakarta
Gemuruhmu sampai
Ke mana-mana

Adu nyali
Adu nasib
Adu untung

Aji mumpung.

06112017











/12/

Tuhan
Bisakah dengan puisi
Kutebus dosaku?

06112017

















/13/

Puisi cinta?
Ah, non sens!!

Jangan percaya rayuan
Sebab di baliknya adalah pisau
Yang siap melukai

Jangan percaya ucapanku
Yakin saja pada Tuhan
bersamaNya kau pasti aman.

06112017










/14/

Ada yang sedang mengingat kekasihnya
Mengirimkan sih dalam hati
Lewat doa-doa

Bulan tampak lebih benings
Setelah dibasuh gerimis tipis

Sabda malam:
Di antara tujuh lapis
Langit dan bumi
Tuhan memberi isyarat
Dalam dada

Temui mimpimu
Malam ini.

07112017




/15/

Sisa hujan meninggalkan jejak kaki
Jam lima sore
Kuingat kalimatMu
Saat senyum perempuan itu
Menusuk mata.

07112017
















/16/

Jam satu siang hujan turun deras sekali
Parit-parit mulai terisi
Petani bersorak

Yang aku takutkan
Hutan itu mengalirkan air bah
Menghanyutkan
Hingga tak tersisa
Bahkan akalamu pun hilang
Dari kepala.

08112017









/17/

Ini bukan puisinya Chairil
Bahkan aku belum pernah bertemu
Dengannya
Dia sudah meninggal

Kau tak perlu sedu sedan seperti itu
Aku memang ingin hidup
Seribu tahun lagi
Jangan tanya untuk apa

Aku tahu puisi-puisinya
Tapi sulit memahami
Isi kepalamu

Seperti hujan tadi sore
Kebun singkongku koyak
Oleh angin
Itu rahasiaNya
Persis sifatmu
Yang terlalu diam.
08112017


/18/

Laki-laki tambun
Menulis surat untuk perempuan
Masihkah kekasihnya
Mau membaca
Sedangkan zaman telah berubah
Pena dan kertas
Tak lagi romantic.

08112017












/19/

Satu persatu bidadari di negeri ini
Dipersunting pria-pria beruntung
Tuhan, jangan biarkan jatah jomblo
Dicuri pria beristri
Kasihani mereka

“Yang, selamat ya?”

08112017














/20/

Bung,
Tunas muda rumpun bamboo
Kudapan makhluk omnivore
Manusia
Segala dilahapnya

Bung,
Sedapnya hingga ke ubun-ubun
Pengganjal perut kosong

Ah kau, Bung
Pura-pura tak tahu.

08112017



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI MBELING (ANTOLOGI BIAR MBELING ASAL ELING) #4

RONG-RONG kain batik kain barong berpakaian rapi ternyata garong mirip legenda si buta terong pegang pistol main todong main petak umpet sembunyi di lorong pura-pura jujur padahal bohong pura-pura loyal padahal merongrong mencuri kabel simpan di gorong-gorong kalau tertangkap malah teriak minta tolong rong, garong, garong wajahnya tampak bengis meski tanpa kumis baiknya pakai mimis untuk memberondong biar tak ada lagi yang suka nyolong biar kapok dan tak main serong. 22102016

SEPENGGAL KISAH KAMIS SENJA

02.30 sore duduk santai di beranda minum kopi sambil baca koran hmm... sungguh mengasyikkan kubaca koran yang aku lupa koran apa namanya halaman duabelas ada tulisan yang begini bunyinya :                 Tewas , usus terburai, kelamin terpotong , kepala terlepas dan kepala itu menggelinding, meluncur dengan cepat menuju ke pedagang kelapa. Dikira kelapa lalu diparut dan kemudian dilemparkan lagi. Kepala itu meluncur ke pedagang semangka, diambilnya dikira semangka, dipotong dan dicampakkan lagi ke got, dijilat anjing, dikerubuti lalat dan menggelinding lagi ke lapangan bola.                 Di sana, kepala itu ditendang kesana kemari, dikira bola digiring dan digolkan ke gawang. Dan kepala itu terus meluncur tanpa tuju sampai akhirnya ia terhenti di depan pintu dapur warung makan. Kepala itu lalu diambil si pemilik...