Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN: PEREMPUAN DALAM LUKISAN

PEREMPUAN DALAM LUKISAN             Sesosok perempuan cantik keluar dari lukisan yang baru kubeli di taman kota. Ia menatapku tajam.             “Siapa kau?” tanyaku             “Aku perempuanmu,”             “Ah bullshit!! Kau jangan mengada-ada,”             “Aku tak pernah mengada-ada. Aku serius. Sudah ditakdirkan aku jadi milikmu sekarang. Bukankah kau telah membayarku dari laki-laki tua yang kau temui,”             “Iya memang. Tapi aku membeli lukisan bukan membeli seorang perempuan,” aku berusaha membela diri.             “Lukisan atau bukan, yang jelas aku sudah menjadi milikmu. Aku ...

CERPEN: WAJAH-WAJAH DALAM MIMPI

WAJAH-WAJAH DALAM MIMPI             “Jangan takut Mas, semua akan baik-baik saja. Kamu berdoa saja ya, semoga operasinya berjalan lancar,” ujar seorang suster yang mendorong bed beroda ke dalam ruang operasi.             Hawa dingin dari ac membuat tubuhku yang hanya mengenakan baju operasi warna hijau mengigil hingga kelaki-lakianku terusik. Tapi aku menahannya, malu kalau sampai suster itu tahu.             “Suster,”             “Ya Mas,”             “Bolehkah aku mengajukan satu permintaan,”             “Apa itu Mas?”             “Sebelum aku terlelap Karena obat bius nanti saat operasi,...

17 Best Hits Tembang Kenangan Dian Piesesha full album

Deretan Gigi geligimu begitu rapi tawa ceria seolah tanpa celah untuk air mata perempuan yang namanya menjadi kalimat di setiap catatan harian jika kutanam puisi nanti di ladangmu lahirkanlah ia sebagai bait-bait Indah seperti saat kutulisi cinta di hatimu. 29012018

PUISI -HALTE BERKARAT

HALTE BERKARAT by: Pensil Kajoe Besi-besi rapuh cokelat menebarkan amis tempat pertama saling beradu bibir terlalu tua, untuk bercerita tak lagi ada bus yang berhenti masing-masing sembunyi menunggu waktu tiba giliran menyepi sendiri. Tumiyang, 16012018

PERCAKAPAN DALAM SURGA

PERCAKAPAN DALAM SURGA X: “Asyik ya kita sudah masuk surga.” Y: “Ya, saya bersyukur bisa berada di sini.” X:  “Ngomong-ngomong, apa yang mengantarmu sampai di sini?” Y: “Kata Malaikat di depan tadi, dia bilang aku masuk karena pernah nolongin nenek-nenek       Nyebrang jalan.” X: “Ohh, syukurlah. Kamu memang orang baik. Padahal dulu kulihat badanmu penuh tattoo.” Y: “Ah kamu Kang, jangan memuji seperti tu. Aku ini preman jalanan. Eh kalau kamu sendiri                                                            Gimana?” X: “Kalau aku cuma nyingkirin paku di tengah jalan.” Y: “Paku? Wah kurang ajar. Itu pasti ranjau paku yang sengaja ditaburkan di tengah jal...