PEREMPUAN
DALAM LUKISAN
Sesosok
perempuan cantik keluar dari lukisan yang baru kubeli di taman kota. Ia
menatapku tajam.
“Siapa
kau?” tanyaku
“Aku
perempuanmu,”
“Ah
bullshit!! Kau jangan mengada-ada,”
“Aku
tak pernah mengada-ada. Aku serius. Sudah ditakdirkan aku jadi milikmu
sekarang. Bukankah kau telah membayarku dari laki-laki tua yang kau temui,”
“Iya
memang. Tapi aku membeli lukisan bukan membeli seorang perempuan,” aku berusaha
membela diri.
“Lukisan
atau bukan, yang jelas aku sudah menjadi milikmu. Aku ingin mengabdikan diri
padamu, seutuhnya. Bila perlu dengan tubuhku,” ucapan perempuan itu membuatku
panas dingin.
Tanpa
kuduga dia melangkah mendekat dan cupp satu kecupan mendarat di bibirku. Secara
reflek kudorong tubuhnya hingga dia hampir terjungkal ke belakang.
“Maaf,
aku tak bermaksud kasar padamu, tapi…”
“Ah,
Kau tak perlu jadi laki-laki munafik seperti itu. Menolak ciuman dari seorang
lawan jenis. Aku tahu kau sebenarnya juga suka bukan?” ujar perempuan itu
kecewa.
Perempuan
agresif. Satu kancing bajuku terlepas, mungkin karena ditariknya tadi waktu ku
mendorong tubuhnya ku bantu dia untuk bangkit dari lantai.
“Sekali
lagi, aku minta maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu,” ucapku seraya memapahnya.
Perempuan
itu duduk di sofa dekat meja kecil yang di atasnya ada sebuah tv 14 inch.
“Laki-laki
bodoh! Harusnya kau manfaatkan kesempatan tadi untuk memuaskan nafsumu di
tubuhku. Lalu untuk apa kau membeliku jika kau tak pernah memakaiku?”
Kubiarkan omelan-omelannya keluar dari mulutnya dengan
gincu menyala mewarnai bibirnya.
Aku tak
habis pikir, kenapa dia menyerangku dengan cumbuan seperti tadi? Ya, aku memang
laki-laki normal tapi, aku tak akan melakukan hal konyol seperti itu
Sesaat,
ruangan dalam kamarku hening. Hanya suara tarikan nafas masing-masing yang silih
berganti.
“Nona,
sejak awal kau datang, aku belum tahu siapa namamu dan kenapa kau tiba-tiba
keluar dari lukisan itu?”
Perempuan
itu terdiam, seolah tak mendengarkan pertanyaanku. Matanya menyapu seisi
ruangan kamarku. Apa yang dia cari? Ah sudahlah aku tak mau menebak apa yang
ada dalam benaknya. Yang kuingin sekarang, aku tahu siapa dia sebenarnya.
“Namaku
Hapsari. Aku berasal dari pikiran-pikiran manusia terutama dari kaummu, para
laki-laki. Aku datang dalam bentuk seperti yang kau lihat sekarang. Inilah
takdir yang harus kujalani. Seperti halnya Hawa ada untuk Adam. Sebab Tuhan
tahu, Adam adalah seorang laki-laki normal. Tuhan juga tahu apa yang ada dalam
pikirannya. Untuk itulah Tuhan menciptakan seorang perempuan untuk meredakan
gejolak seorang Adam,”
Tak
kusangka, perempuan yang awalnya bukan perempuan baik-baik, ternyata ucapan
yang keluar dari mulutnya membuatku tercengang. Sangat logis dan memang benar
argument yang dia sampaikan. Dunia, tanpa perempuan seperti notasi-notasi yang
tak pernah dimainkan, sepi.
“Nona,
lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Di sini hanya ada aku dan kau berdua
dalam kamar?” pertanyaanku dibalasnya dengan tawa kecilnya.
“Hi
hi hi… Kau benar-benar lucu Tuan. Aku rasa kau tak perlu bertanya seperti itu.
Bukankah kau seorang laki-laki dewasa dan aku lukisanmu. Akulah gambaran yang selama
ini mengisi pikiranmu, akulah perwujudan kedewasaanmu. Sekarang kuserahkan
padamu. Apapun yang akan kau lakukan, aku pasrah. Bukankah aku pernah
mengatakannya padamu. Aku telah kau beli, jadi terserah kau saja Tuan,” matanya
mengerling manja.
“Tidak
Nona. Aku tak akan melakukan apapun padamu. Aku belum begitu mengenalmu.
Lagipula aku membeli lukisan bukan membeli seorang perempuan untuk kunikmati
dengan nafsuku,” mendengar jawabanku perempuan yang berdiri di depanku
tersenyum simpul. Ekspresi wajahnya cerah taka da lagi raut muka menggoda. Kini
dia terlihat lebih anggun seperti saat masih berdiam dalam lukisan.
“Tuan,
kau berbeda dengan laki-laki lain di luar sana,”
“Maksudnya?”
“Kau
lebih menghargai suatu karya dengan hati bukan semata dengan nafsu. Aku kini
bahagia bisa berada dalam rumahmu. Tak seperti teman-temanku lainnya, mereka hanya
menjadi budak pikiran-pikiran kotor seorang laki-laki. Sekarang aku lebih
nyaman tinggal dalam rumahmu, meski hanya menjadi sebuah lukisan tapi aku yakin
kau akan merawat dan menjagaku dengan baik. Aku harap suatu saat nanti kita
bisa bertemu dan kau memiliki diriku, bukan lagi sebagai lukisan.”
Sesaat
setelah bicara seperti itu perempuan itu terdiam. Kulihat lambat laun, tubuhnya
menipis kulitnya berubah warna seperti sapuan cat air di atas kanvas, perempuan
itu kembali menjadi lukisan cat air. Meski tak secantik Monalisanya Leonardo Da
Vinci tapi dia benar-benar anggun.
Tumiyang,
24072017
Komentar
Posting Komentar