Langsung ke konten utama

CERPEN: WAJAH-WAJAH DALAM MIMPI

WAJAH-WAJAH DALAM MIMPI

            “Jangan takut Mas, semua akan baik-baik saja. Kamu berdoa saja ya, semoga operasinya berjalan lancar,” ujar seorang suster yang mendorong bed beroda ke dalam ruang operasi.
            Hawa dingin dari ac membuat tubuhku yang hanya mengenakan baju operasi warna hijau mengigil hingga kelaki-lakianku terusik. Tapi aku menahannya, malu kalau sampai suster itu tahu.
            “Suster,”
            “Ya Mas,”
            “Bolehkah aku mengajukan satu permintaan,”
            “Apa itu Mas?”

            “Sebelum aku terlelap Karena obat bius nanti saat operasi, bolehaku minta nomor hpmu?” ucapku lirih. Suara alat deteksi jantung dan nadi berbunyi di keheningan ruang operasi. Kulihat suster itu tersenyum.
            “Hmm boleh kok Mas, memang untuk apa Mas?” suster itu bertanya.





           

           
            “Tidak apa-apa Suster. Aku hanya ingin menyimpannya. Mungkin jika nanti aku tak bangun lagi setelah ini, dan aku telah berada di alam yang berbeda, kalau aku kangen sama kamu, aku bisa meneleponmu dari sana. Kau tak perlu takut, sebab aku hanya ingin mendengar suaramu,” mendengar ucapanku suster tersebut menghela nafasnya dalam-dalam.
            “Mas, kau tak boleh bicara seperti itu, kau harus yakinbahwa kau akan selamat dan soal nomor hpku, aku akan memberikannya untukmu. Kau boleh telepon aku kapan saja, tapi bukan di alam yang berbeda,” jawabannya seperti menjadi penyemangaku yang akan menghadapi pilihan antara hidup dan mati.

            “Maaf Mas, sebentar lagi dokter anestesi datang, beliau akan memberikan suntikan bius agar kau tak merasa sakit nanti,” ujar suster itu lagi.
            Ruangan operasi semakin dingin, kedua ujung jari telunjukku dijepit alat yang terhubung dengan kabel dan di atas perutku tergantung lampu-lampu besar. Beberapa perawat juga telah masuk dan mempersiapkan alat-alat operasi. Terdengar denting logam, “Mungkin itu pisau operasi yang akan menyayat kulit tubuhku,” gumamku bergidik.
            Aku sempat terlelap sesaat karena hawa dingin ruangan membuatku mengantuk.
“Mas bangun Mas,” seseorang menepuk bahuku. Kulirik seorang pria berpakaian putih-putih berdiri di samping kepalaku.
            “Saya akan menyuntik bagian pinggang. Bisakah Mas bangun sebentar?” ujar pria tersebut.
           



           

            Aku mengangkat tubuhku, merubah ke posisi duduk dengan di bantu oleh dua orang suster. Sementara perawat lainnya menyiapkan spuit dengan satu ampul obat berbentuk cairan.
            Kurasakan seperti ada semut yang menggigit pinggangku dan setelahnya aku tak merasakan apa-apa lagi. Hanya suara seorang perempuan berbisik di telinga kiriku.
            “Kau pasti bisa melewatinya. Lawanlah, aku menunggumu Mas,”

***

            Di depan koridor yang menghubungkan ruang kelasku dengan laboratorium biologi, aku berpapasan dengan seorang teman satu sekolah, hanya saja beda jurusan. Ia tersenyum dengan sorot matanya tajam. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi bukan dengan baju seragam sekolah. Dan usianya sedikit lebih dewasa. Di tengah kebingunganku, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku,
            “Sedang apa anak muda. Dari tadi bapak perhatikan, Kau seperti sedang bingung?” ujar laki-laki itu mengagetkanku. Belum lagi terjawab siapa perempuan tadi, aku dikejutkan lagi oleh sesossok laki-laki yang berada di dekatku. Wajahnya pun sangat familiar. Namun, otakku tak mampu untuk mengingat di mana aku bertemu dengan mereka.
            “Soto ayamnya satu Bu,” ucapku pada penjaga warung.
            “Baik Mas, special atau biasa?” ujar perempuan penjaga kantin menawarkan pilihan menu dagangannya.






            “Yang biasa saja Bu,” jawabku. Yang penting perutku berhenti berteriak siang itu. Uangku tak cukup kalau harus memesan menu special.
            “Minumnya apa Mas?” tanya perempuan itu lagi.
            “Air putih saja Bu,” jawabku.
            Beberapa menit kemudian, semangkok soto ayam di depanku tinggal tersisa sepotong ketupat dan sebutir kecambah. Di suapan terakhir, telingaku seperti mendengar seseoran memanggil namaku. Padahal tak kulihat ada siapapun di dekatku selain ibu penjual soto yang sedang melayani pembeli lainnya. Suara itu sangat jelas, memanggil namaku.
            Kulihat di luar kantin, seorang anak kecil berlari menghampiri seorang laki-laki.

            “Iya Ayah. Ayah aku lapar,” terdengar suara anak kecil itu merengek pada laki-laki yang dipanggilnya ayah.
            Aku tak percaya, sosok laki-laki dan seorang anak kecil itu, aku kenal mereka. Anak kecil itu kenapa mirip denganku dan laki-laki itu persis seperti wajah ayahku. Tapi bukankah ayah sudah lama meninggal, dan anak kecil itu kenapa mirip sekali denganku padahal aku tak memiliki adik.
            Apa sebenarnya yang sedang aku alami ini. Kenapa orang-orang di sini begitu aneh. Mereka semua terlihat dengan wajah yang lebih muda, tapi kenapa aku juga seakan telah bertemu dengan mereka.







            “Don’t move! Youre arrested!!” ujar seorang berseragam police.
            “Apa police?! Po li ce,” kueja lagi tulisan yang ada di bajunya.
            Di mana aku sekarang, bukankah tadi aku masih di dalam kantin sekolah dan melihat seorang anak kecil dan ayahnya, lalu kenapa tiba-tiba ada seorang polisi yang menilangku. Seperti dalam game di laptopku. Aku tengah berada di jalan raya di Los Angels. Polisi itu menilangku karena aku dikiranya telah melakukan kebut-kebutan di jalan raya yang mengakibatkan rusaknya sebuah pom pengisian bahan bakar mandiri. Aku di tilangnya dan harus mulai dari awal jika ingin sampai di tempat tujuan. Ah sungguh aneh apa yang kualami ini.
                                                                   ***
            “Ini Mas kopinya,” ujar perempuan cantik seraya menyodorkan secangkir kopi di tangannya.
            “Kau siapa? Kenapa sepagi ini sudah ada di rumahku?” tanyaku heran.
            “Ah Mas ini bercanda deh, aku kan istrimu Mas,” jawab perempuan itu. Mendengar jawabannya, aku tertegun. Dia istriku, kapan aku menikah?
            “Oh iya Mas, aku punya kejutan untukmu,” perempuan itu kembali bicara.
           








            “Kejutan apalagi, keberadaanmu saja sudah merupakan kejutan bagiku,” gumamku dalam hati.
            “Kemarin, waktu aku ke dokter kandungan, dan… kamu tahu Mas?”
            “Tahu apa?” tanyaku
            “Aku hamil Mas,”
            “Kamu hamil?”
            “Iya aku hamil anak kita. Kamu akan jadi ayah dan aku jadi ibu,” ekspresi bahagia terpancar dari raut wajahnya.
            Melihat aku yang tetap mematung. Perempuan itu mengguncang-guncangkan tubuhkku.
            “Mas, kenapa kau malah seperti bingung begitu? Aku istrimu dan aku hamil anak kamu Mas,”  Ia terus saja mengguncang-guncang tubuhku.
            “Mas kamu sudah siuman rupanya. Selamat yah, operasinya berjalan lancar,” ujar perempuan yang mirip istriku dalam mimpi.
            “Operasi Suster?” tanyaku heran
            “Ya operasi,”
            “Siapa yang operasi?” tanyaku setengah sadar. Sepertinya pengaruh obat bius belum hilang.
            “He he he. Iya Mas. Aku tahu, kamu masih dalam masa pemulihan jadi reaksi obatnya belum hilang,”


           


            Perlahan kesadaranku mulai pulih. Tapi saat melihat wajah suster aku kaget karena sangat mirip dengan wajah seorang perempuan yang mengaku menjadi istriku dalam mimpi yang kualami. Bahkan, orang-orang di ruangan operasi, wajahnya sangat mirip dengan mereka yang ada dalam mimpiku.
            “Kamu kenapa Mas?” tanya suster
            “Oh tidak, apa-apa Sus. Hanya saja tadi aku bermimpi,”
            “Memangnya kamu mimpi apa? Mimpi tentang aku kah?” ujar suster muda itu penasaran. 
            “Iya, bukan hanya wajah Suster yang ada dalam mimpi tapi wajah orang-orang di ruang operasi, mereka menjadi sosok-sosok baru, lebih muda. Bahkan almarhum ayah dan aku sendiri menjelma dalam mimpi. Semuanya tampak seperti nyata, dan…”
            “Apa Mas?”
            “Kamu Suster,”
            “Ada apa denganku Mas?”
            “Kamu menjadi istriku,”
            “Ah masa sih Mas?”
            “Iya. Dan kamu juga lagi mengandung anak pertama kita,”
            “Wah, aku sampai hamil juga? Hebat mimpi kamu ya Mas,”





            Mendengar ucapan suster seperti itu, aku justru kikuk dan malu.
            “Sudah, sudah Mas tidak perlu malu begitu. Toh itu hanya mimpi kan?”  perawat  itu tersenyum. Aku menangkap isyarat yang tersembunyi di balik senyumannya itu.
            “Oh iya Mas, aku permisi dulu mau ngecheck pasien di ruangan sebelah. Kalau Mas butuh sesuatu, tinggal tekan tombol ini saja. Nanti ada perawat yang datang,” ujarnya sambil menyelipkan sesuatu di bawah bantalku.
            “Terima kasih Suster,”
            Perempuan itu tersenyum simpul sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
            Penasaran dengan apa yang diselipkan suster tadi di bawah bantal, kurogoh dan tanganku menyentuh secarik kertas.

            “Kertas apa ini,” gumamku.
            “Wah nomor telepon?” aku sedikit berteriak kecil.
Untunglah tak ada orang lain yang mendengarnya. Ada sebuah nama tertulis di bawah deretan angka-angka yang membentuk nomor telepon selularnya.
           
082221766791
Roudhatul Jannah
            “Jannah, Kau memang bidadari di taman surga yang kutemui di sini,”

            Tumiyang, 24072017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI MBELING (ANTOLOGI BIAR MBELING ASAL ELING) #4

RONG-RONG kain batik kain barong berpakaian rapi ternyata garong mirip legenda si buta terong pegang pistol main todong main petak umpet sembunyi di lorong pura-pura jujur padahal bohong pura-pura loyal padahal merongrong mencuri kabel simpan di gorong-gorong kalau tertangkap malah teriak minta tolong rong, garong, garong wajahnya tampak bengis meski tanpa kumis baiknya pakai mimis untuk memberondong biar tak ada lagi yang suka nyolong biar kapok dan tak main serong. 22102016

SEPENGGAL KISAH KAMIS SENJA

02.30 sore duduk santai di beranda minum kopi sambil baca koran hmm... sungguh mengasyikkan kubaca koran yang aku lupa koran apa namanya halaman duabelas ada tulisan yang begini bunyinya :                 Tewas , usus terburai, kelamin terpotong , kepala terlepas dan kepala itu menggelinding, meluncur dengan cepat menuju ke pedagang kelapa. Dikira kelapa lalu diparut dan kemudian dilemparkan lagi. Kepala itu meluncur ke pedagang semangka, diambilnya dikira semangka, dipotong dan dicampakkan lagi ke got, dijilat anjing, dikerubuti lalat dan menggelinding lagi ke lapangan bola.                 Di sana, kepala itu ditendang kesana kemari, dikira bola digiring dan digolkan ke gawang. Dan kepala itu terus meluncur tanpa tuju sampai akhirnya ia terhenti di depan pintu dapur warung makan. Kepala itu lalu diambil si pemilik...