Langsung ke konten utama

MEMBUNUH SEBELUM TERBUNUH



            Aku sedang melamun atau tepatnya berkontemplasi di malam yang belum terlalu larut. Mendengarkan suara-suara serangga dan entah apa saja yang bersuara di balik malam yang bisa kudengarkan.
            Mencoba bersenyawa dengan angin malam, hingga membuat badankusemakin panas. Apalgi tadi sore langit memandikanku engan hujan derasnya.
            Aku tengah mengadilidiriku sendri sebelum pengadilan Tuhan memutuskannya. Satu  persat airmata bercucuran. Tiap-tiap butir kupahami, mungkin sebanyak itu dosaku, bahkan lebih.
            Dosa memang terlalu indah untuk dinikmati. Dosa sangat nikmat daripada harus sibuk mengingatNya.
            Malam perlahan mulai larut, namun Tuhan belum juga tertidu. Dia masih mengawasiku. Bahkan ketika aku membunuh seekor nyamuk yang menghisap darah di lutut kananku. Malam ini, aku menjadi algojo bagi salah satu anggota keluarga nyamuk. Apakah mereka yang ditinggalkan menangis kehilangan? Aku tak tahu nyamuk yang baru kubunuh itu ayah, ibu, anak atau anggota keluarga lainnya.  Kalau yang kubunuh adalah ayah bagi anak nyamuk, itu artinya aku menyebabkan mereka menjadi anak yatim? Lalu, bagaimana dengan seekor nyamuk DBD yang berhasil membunuh puluhan bahkan ribuan manusia. Hanya dengan sekali gigitannya. Apa nyamuk itu juga akan merasa bersalah?
            Ah… sedemikian jauhkah lamunanku malam ini?
           





                Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengatur nafas, mencoba berdamai dengan kenakalan pikiranku. “Membunuh sebelum terbunuh, menembak sebelum tertembak,” Aku tak salah kan? Sebelum nyamuk itu membunuhku, maka kubunuh saja dia. Namun, hal tersebut tak boleh diterapkan di duniaku, dunia umat manusia. Tapi pada kenyataannya, tak sedikit manusia yang saling membunuh. Entah alas an apa, aku tak terlalu tahu. Yang kutahu mereka kesusu (terburu-buru,pen) menuruti hawa nafsu.
                Oke terimakasih Tuhan, dalam gelap malam, lewat sepoi angin, bersama suara-suara malam aku temukan jalan terang. Berjalan di jalanMu.

Tumiyang, 08032016


PENSIL KAJOE, lahir di Banyumas 27 Januari. Tulisan-tulisannya sudah banyak tersebar di koran cetak dan online. Membukukan kurang lebih 20 buku antologi tunggal dan 80 antologi bersama. Saat ini menjadi penulis di Majalah Digital Bahasa Jawa, Belik, Yogyakarta.

No Shopee... 089651793079 
No WA: 085640896929







Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI MBELING (ANTOLOGI BIAR MBELING ASAL ELING) #4

RONG-RONG kain batik kain barong berpakaian rapi ternyata garong mirip legenda si buta terong pegang pistol main todong main petak umpet sembunyi di lorong pura-pura jujur padahal bohong pura-pura loyal padahal merongrong mencuri kabel simpan di gorong-gorong kalau tertangkap malah teriak minta tolong rong, garong, garong wajahnya tampak bengis meski tanpa kumis baiknya pakai mimis untuk memberondong biar tak ada lagi yang suka nyolong biar kapok dan tak main serong. 22102016

SEPENGGAL KISAH KAMIS SENJA

02.30 sore duduk santai di beranda minum kopi sambil baca koran hmm... sungguh mengasyikkan kubaca koran yang aku lupa koran apa namanya halaman duabelas ada tulisan yang begini bunyinya :                 Tewas , usus terburai, kelamin terpotong , kepala terlepas dan kepala itu menggelinding, meluncur dengan cepat menuju ke pedagang kelapa. Dikira kelapa lalu diparut dan kemudian dilemparkan lagi. Kepala itu meluncur ke pedagang semangka, diambilnya dikira semangka, dipotong dan dicampakkan lagi ke got, dijilat anjing, dikerubuti lalat dan menggelinding lagi ke lapangan bola.                 Di sana, kepala itu ditendang kesana kemari, dikira bola digiring dan digolkan ke gawang. Dan kepala itu terus meluncur tanpa tuju sampai akhirnya ia terhenti di depan pintu dapur warung makan. Kepala itu lalu diambil si pemilik...