Langsung ke konten utama

KUTU BUKU Vs KUTU ANDROID


        Dulu ada istilah KUTU BUKU untuk menyebut mereka yang gemar membaca buku digambarkan dengan memakai kaca mata tebal dan terlihat cupu (culun punya). Seiring berkembangnya zaman yang serba kompleks, kegemaran membaca buku dirampas oleh teknologi canggih yang lebih memikat hati dan mata. Tak bisa dipungkiri memang, teknologi turut berkontribusi dalam keseharian aktivitas manusia.  Seperti halnya yang terjadi saat ini, gadget pintar atau lazim disebut android begitu digandrungi, dari balita hingga mereka yang tak muda lagi.
      Perangkat yang awal penciptaannya ditujukan sebagai alat komunikasi jarak jauh, kini berubah fungsi menjadi alat mendongkrak prestise, semakin mahal dan canggih fitur-fitur yang disematkan maka gengsi atau kebanggannya bertambah. Mungkin sekarang, muncul lagi istilah KUTU ANDROID untuk menyebut mereka yang betah berjam-jam memandangi layar telepon pintar mereka, sejak bangun pagi sampai menjelang tidur malamnya. Tak peduli kuota habis sekian puluh gigabyte asalkan mereka bisa eksis di dunia maya dengan akun medsosnya. Berselfie ria, upload foto-foto, dan aktivitas "alay" mereka.

      Maka dari itu, dalam hati saya muncul niatan dan mulai dijalani pelan-pelan lewat TANDA BATJ@ CORNER, sebuah lapak mewah yang menyediakan buku-buku bacaan yang saat ini fokus pada buku-buku bacaan untuk anak-anak, disamping menjual buku-buku tulisan sendiri. Guna menuntun mereka, anak-anak agar jangan selalu berkutat dengan hpnya yang bukan tidak mungkin akan menjadikan anak pemalas.
      TANDA BATJ@ CORNER dapat dijumpai setiap hari Minggu pagi di gelaran CFD di Ajibarang, mulai pukul 06:00-11:00 WIB.


06022018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN BERSEDIH MESKI NASI SUDAH MENJADI SEMANGKUK BUBUR

PERENUANGAN #2...

METAMORFOSIS Telur -> Ulat -> Kepompong -> Kupu-Kupu Bukan proses yang sederhana. Boleh dikatakan sangat istimewa. Betapa tidak, perjalanan “to be” tersebut begitu panjang; banyak aral rintangan di sepanjang perjalanan. Entah faktor alam atau faktor predator.             Coba perhatikan dengan seksama, ketika masih berwujud telur, bahaya pun mulai mengintai; dari mulai dimangsa serangga atau dimusnahkan oleh manusia. Disaat telur menetas menjadi ulat, kembali cobaan mendera, bisa dipatuk burung dan lagi-lagi peran manusia ikut andil memusnahkannya dengan menyemprotkan cairan beracun. Tak sedikit dari mereka yang mati, namun ada juga diantara mereka yang   dan meneruskan perjuangannya   “to be.”             Meskipun demikian, penderitaan tidak cukup sampai di situ saja. Masih tetap berlanjut saat si ulat melakukan meditasi menyempurnakan wuju...

CINTA, CINTA, CINTA...

anak muda jatuh cinta anak muda putus cinta anak muda mencari cinta manusia butuh cinta cinta datang cinta pergi cinta melukai tak usah kau kejar dia yang pergi tak perlu menangis untuk yang melukai dengan seringai tajam berambisi cinta akan datang cinta akan menemani bukan dia tapi ada yang mengganti tenanglah, itu kiriman dari Illahi. 24102016