Langsung ke konten utama

CERPEN: VENEZIA DI BELAKANG RUMAHKU

VENEZIA DI BELAKANG RUMAHKU

            Aku suka berkhayal kalau sungai kecil di belakang rumahku adalah kanal seperti yang ada di Venezia. Di mana rumah-rumah dipisahkan oleh kanal-kanal panjang sebagai jalur penghubung sekaligus jalur transportasi.

“Hai Di,” sapa teman perempuan sepermainanku.
“Hai juga Nina,” balasku.

“Sedang apa kua sepagi ini sudah bengong di tempat ini. Seperti ada sesuatu yang kau pikirkan?”

“That’s right Nina. Aku memang sedang berkhayal tengah berada di kanal Venezia. Bukankah hal itu sangat mengasyikan?”

Mendengar ucapanku, Nina tertawa kecil.

“Hihihi... Kau lucu juga ya Di? Imajinasimu terlalu jauh,”




           

            “Kurasa tidak, bukankah imajinasi itu tanpa batas? Jadi seseorang boleh bermain atau membentu sesuatu yang diinginkan dengan pikirannya sendiri,” ujarku membela diri. Berharap semoga dia paham dengan argumenku.

                        “Yay a ya, kau tak salah Di. Aku pun tengah mengimajinasikan dirimu                                seperti…” Nina meledek.
                        “Seperti apa?” tanyaku.
                        “Seperti Pinokio,” jawab Nina.
                        “Huuu dasar,” ujarku sambil mengangkat kepalan tangan ke udara.
                        “Iya deh sorry, habisnya hidungmu panjang kayak hidung Pinokio,” tukas Nina.
                        “Oke, oke. Dan… kamu juga seperti….” Aku sengaja tak meneruskan kata-kataku agar Nina penasaran.
                        “Seperti apa Di?” tanya Nina.
                        “Seperti apa yaa?” ujarku meledek.
                        “Apa?” Nina makin penasaran, terlihat dia mulai merajuk.
                        “Please…”
                        “Ada deeh,” jawabku.

                                                                                                                        30072017
                                                               



Komentar

Postingan populer dari blog ini

JANGAN BERSEDIH MESKI NASI SUDAH MENJADI SEMANGKUK BUBUR

PERENUANGAN #2...

METAMORFOSIS Telur -> Ulat -> Kepompong -> Kupu-Kupu Bukan proses yang sederhana. Boleh dikatakan sangat istimewa. Betapa tidak, perjalanan “to be” tersebut begitu panjang; banyak aral rintangan di sepanjang perjalanan. Entah faktor alam atau faktor predator.             Coba perhatikan dengan seksama, ketika masih berwujud telur, bahaya pun mulai mengintai; dari mulai dimangsa serangga atau dimusnahkan oleh manusia. Disaat telur menetas menjadi ulat, kembali cobaan mendera, bisa dipatuk burung dan lagi-lagi peran manusia ikut andil memusnahkannya dengan menyemprotkan cairan beracun. Tak sedikit dari mereka yang mati, namun ada juga diantara mereka yang   dan meneruskan perjuangannya   “to be.”             Meskipun demikian, penderitaan tidak cukup sampai di situ saja. Masih tetap berlanjut saat si ulat melakukan meditasi menyempurnakan wuju...

CINTA, CINTA, CINTA...

anak muda jatuh cinta anak muda putus cinta anak muda mencari cinta manusia butuh cinta cinta datang cinta pergi cinta melukai tak usah kau kejar dia yang pergi tak perlu menangis untuk yang melukai dengan seringai tajam berambisi cinta akan datang cinta akan menemani bukan dia tapi ada yang mengganti tenanglah, itu kiriman dari Illahi. 24102016