SKENARIO DRAMA SATU BABAK
WAJAH DALAM CERMIN
BY: PENSIL KAJOE
Suatu siang yang terik, seorang anak muda berjalan gontai. Di tengah jalan, ia melihat sebuah benda yang bersinar. Ia penasaran dan ada rasa takut menyelimutinya.
Ext. Di jalan
TOKOH 1 (ADIL)
(berjalan mendekat dengan pelan, lalu jongkok dan mengambil benda tersebut)
Benda apa ini, sepertinya aku baru pertama kali melihatnya.
Pemuda itu terkejut saat melihat wajah seseorang dalam benda tersebut, yang tak lain adalah wajahnya sendiri. Namun karena baru pertama kali, ia menyangka kalau wajah tersebut adalah wajah orang asing yang belum pernah dilihatnya.koh
TOKOH 1 (ADIL)
(ia bergumam menatap wajahnya dalam cermin)
Hmm... masih sangat muda, apakah ini wajah salah satu leluhurku dulu? Baiklah biar kusimpan saja benda ini.
Kemudian, dia memasukan benda tersebut ke dalam saku bajunya. Dan ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Int. Rumah
TOKOH 1 (ADIL)
(menghela napas, kelelahan. Tangan kanannya menyeka keringat di dahinya)
Hufft.. panas sekali udara hari ini.
TOKOH 2. (AYAH ADIL)
( heran dengan tingkah anaknya).
Kamu kenapa Nak?
TOKOH 1 (ADIL)
Aku lelah sekali hari ini Yah. Dan ada yang aku ingin tunjukan ke ayah.
Di jalan tadi, aku menemukan benda berkilauan seperti ini. Di dalamnya ada foto seorang pemuda. Mungkin ayah tahu foto siapa?
Pemuda tersebut lalu menyerahkan benda itu ke ayahnya.
Lalu sang ayah mengamati benda tersebut dengan seksama.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
(memegang dagu dengan tangan kirinya dan bergumam, sambil mengangguk-angguk pelan)
Hmmm... mana foto pemuda yang kau maksud tadi anakku? Aku tak melihatnya, malah justru wajah seorang tua yang kulitnya keriput dan beruban. Coba lihatlah?
Sang ayah menyerahkan kembali benda itu ke anaknya.
TOKOH 1 (ADIL)
Tidak ayah, tadi saya benar-benar melihat wajah seorang pemuda di benda itu. Ya kalau kutaksir, kira-kira umur 17 tahun. Bukan wajah orang tua seperti kata ayah tadi.
Keduanya saling beradu pendapat. Lalu dari arah dapur muncullah seorang wanita yang jadi
Ibu si pemuda.
TOKOH 3 (IBU ADIL)
(berjalan mendekat ke arah ayah dan anak)
Eeh ada apa sih, ayah dan anak kok ribut? Kaya tikus dan kucing saja.
TOKOH 1 (ADIL)
(memasang wajah cemberut)
Ini Bu, ayah yang tak percaya dengan yang ada di dalam benda ini. Ayah bilang, melihat lelaki tua yang beruban. Padahal waktu aku menemukan benda tersebut, aku lihat ada wajah anak muda.
TOKOH 3 (IBU ADIL)
(tampak penasaran juga dengan pemaparan anaknya tentang benda yang dimaksud)
Coba sini ibu ingin lihat. Kamu yang benar atau ayahmu yang benar.
Sang ibu pun ikut mengamati benda tersebut.
TOKOH 3 (IBU ADIL)
(sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan berdecak)
Ck ck ck... kalian berdua salah. Tak ada wajah pemuda ataupun lelaki tua di sini. Justru yang kulihat adalah seorang perempuan tua dengan noda hitam di pipi kanannya. Coba lihatlah kalau tak percaya?
Ayah dan anakpun semakin penasaran dengan apa yangdidengarnya. Dan keduanya saling berpandangan.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
Anakku, di mana kau temukan benda itu? Lain kali kau jangan asal ambil benda apapun yang kau temukan di jalan. Bisa jadi itu sihir atau benda berbahaya
TOKOH 1 (ADIL)
(sambil menunduk, merasa salah)
Ya ayah, maafkan aku. Lain kali aku tak kan mengulanginya lagi. Tapi tadi waktu pertama kali kutemukan, kumelihat ada wajah seorang pemuda dalam benda itu.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
(mengelus kepala anaknya dan mendekapnya di dada)
Ya sudahlah, kali ini ayah maafkan. Tapi ingat kata-kata ayah tadi. Sekarang sana kau mandi dan ganti baju, lalu makan.
Melepaskan pelukannya dan menepuk pundak anaknya.
TOKOH 1 (ADIL)
Baiklah ayah.
Ayah, ibu, aku pergi mandi dulu yaa?
Setelah berpamitan, lalu pemuda itu berjalan ke arah belakang.
TOKOH 3 (IBU ADIL)
(berjalan mendekat, dan duduk di samping suaminya)
Ayah, apa tidak sebaiknya ayah tanyakan saja sama Ki Suro, paranormal yang terkenal itu. Mungkin saja dia lebih tahu tentang benda aneh itu.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
(terdiam sejenak, sambil mentap wajah istrinya)
Baiklah, besok ayah akan ke rumah ki Suro. Sekarang ayah mau ke ladang dulu.
Namun saat sang ayah akan melangkah ke luar rumah. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
Permisi...apa ada orang di dalam?
TOKOH 3 (IBU ADIL)
Siapa ya?
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
(dari luar rumah, dengan suara sedikit keras)
Saya, Suro dan Pak RT. Tadi kami berdua lewat depan rumah anda dan mendengar ada suara ribut-ribut dari dalam rumah. Jadi kami putuskan untuk melihatnya. Maaf kalau saya lancang dan mencampuri urusan kalian.
Tokoh ke 3 pun berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya sambil mempersilahkan masuk)
TOKOH 3 (IBU ADIL)
(melakukan gerakan membuka pintu)
Mari silakan masuk ki Suro dan Pak RT. Kebetulan kami sedang butuh bantuan. Rencananya besok suami saya akan ke rumah Ki Suro untuk menanyakan suatu hal yang membuat kami sekeluarga bingung.
TOKOH 5 (PAK RT)
(memasang wajah heran dengan mengernyitkan dahi)
Maaf Bu Adil, kalau boleh saya tahu, tentang apa yah? Kok sepertinya serius sekali.
Pak RT memandang wajah Ki Suro meminta pendapat dan argumennya.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
(sambil mengencangkan ikat kepalanya yang berwarna hitam. Dan mengelus kumisnya yang tebal)
Pak Adil dan Bu Adil, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang kalian berdua ributkan. Siapa tahu, saya bisa membantu menyelesaikannya.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
Begini Ki, tadi anak saya menemukan benda aneh yang berkilauan. Anak saya bilang kalau dia melihat wajah seorang pemuda dalam benda tersebut. Sedangkan saya dan Istri saya, melihat wajah laki-laki tua dan perempuan tua.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
Ooh... begitu toh masalahnya, mari coba biar saya lihat benda tersebut.
Pak Adil pun memberikan benda itu ke Ki Suro
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
(Seraya mengeluarkan benda tersebut dari saku bajunya dan memberikannya pada Ki Suro)
Silakan Ki, mungkin Ki Suro lebih tahu benda aneh tersebut.
Ruangan dalam rumah Pak Adil hening.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
(Mengernyitkan dahi, sambil menatap benda itu lama)
Mana wajah yang kalian maksud? Justru saya melihat ada wajah laki-laki berkumis tebal dan bercodet di pipi kanannya. Coba Pak RT lihat, di dalam benda ini apa benar ada wajah seorang laki-laki berkumis dan bercodet.
Ki Suro menyerahkan benda itu ke Pak RT. Sedangkan Pak Adil dan Istrinya saling berpandangan, seperti orang bingung.
TOKOH 5 (PAK RT)
(Menerima benda yng di serahkan oleh Ki Suro)
Hmm... Ki Suro, Pak dan Bu Adil, kalian semua keliru. Yang saya lihat justru laki-laki berkepala botak dengan tubuh tambun. Sepertinya dia banyak makan.
Keempat orang dalam ruangan tersebut, berbeda pendapat tentang benda aneh yang di bawa oleh anak Pak Adil.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
Jadi benda apa itu sebenarnya Ki? Karena kita berempat di sini, tak sependapat. Bahkan anak saya pun berpendapat bahwa ia melihat wajah seorang pemuda.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
Kalau begitu, itu benda ghaib Pak. Jadi kita harus hati-hati pada benda itu. Kalau tidak, kita bisa kena bahaya. Itu benda dari langit. Mungkin saja milik dewa langit atau bahkan makhluk ghaib.
Saat mereka sedang hangat membahas benda itu. Di depan rumah melintaslah lelaki berjubah putih dan berjenggot panjang.
TOKOH 5 (PAK RT)
Berteriak memanggil laki-laki yang mirip pertapa itu.
Kisanak, tunggu sebentar. Saya butuh bantuan Anda.
Laki-laki berjubah pun menghentikan langkahnya.
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
(Berjalan mendekati pak RT dan berdiri di sebelahnya).
Sebentar Pak Tua, kami berempat butuh bantuan Anda. Dari tadi kami belum satupun menemukan jawaban yang tepat, untuk benda aneh ini.
Ki Suro menyerahkan benda tersebut pada Si Pertapa.
TOKOH 6 (PERTAPA)
(terdiam sejenak. Menyapukan pandangan ke arah keempat orang dengan dalam-dalam
dan mengelus-elus jenggot panjangnya).
Hmm.. coba biar saya melihatnya.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
Benda apa sebenarnya itu Pak Tua. Apa benar itu benda ghaib milik dewa atau makhluk ghaib? Kami takut kena kutukan kalau menyimpannya.
TOKOH 6 (PERTAPA)
Kalian semuanya, dengarlah baik-baik. Benda ini bukan benda ghaib milik dewa ataupun makhluk ghaib. Ini adalah cermin. Ya cermin. Benda ini akan memantulkan apapun yang ada di depannya. Seperti halnya kalian melihat ke air di sungai. Nah apa yang kalian lihat?
Kelima orang tersebut saling berpandangan mendengar pemaparan si Pertapa.
Lalu, si paranormal bertanya
TOKOH 4 (KI SURO-PARANORMAL)
Lantas, siapa wajah-wajah yang ada dalam cermin itu? Kenapa setiap kami melihat, pasti selalu berbeda. Apakah dia hantu atau jin penunggu cermin itu?
Mendengar pertanyaan dari Ki Suro, sang pertapa pun tersenyum dan diikuti suara tawanya.
TOKOH 6 (PERTAPA)
Hehehe... kisanak ini lucu, sangat lucu. Bukankah tadi saya sudah bilang. Kalau ini hanyalah sebuah cermin. Dan wajah-wajah yang kalian lihat sebenarnya itu wajah kalian sendiri. Baiklah kalau tidak percaya, biar saya pecahkan benda ini.
Si Pertapa mengangkat tangannya hendak membanting cermin yang ada di tangannya. Namun, terdengar suara Ayah Adil mencoba mencegahnya.
TOKOH 2 (AYAH ADIL)
(Sambil memasang wajah memelas)
Jangan!! Saya tidak ingin kena kutukan oleh penunggu benda itu. Kumohon Pak Tua, jangan kau pecahkan benda itu.
Ayah Adil sangat ketakutan. Ia mengira kalau benda itu sampai pecah, maka akan jadi bencana yang menimpa keluarganya atau seluruh kampung kena kutukan.
TOKOH 5 (PAK RT)
Sudahlah Pak Adil, anda tenang saja. Kita lihat apa yang akan terjadi dengan benda itu. Biarkan Si Pertapa itu memcahkannya. Daripada kita saling bersitegang seperti ini.
Kemudian Si Pertapa pun membanting cermin itu ke lantai. Dan Praang....
Cermin pun pecah menjadi beberapa keping.
TOKOH 6 (PERTAPA)
Nah sekarang, kalian ambil pecahan cermin itu. Masing-masing satu. Lihatlah, ada apa dalam cermin itu? masih adakah wajah orang yang kalian maksud?
Seperti pasukan mendengar komando sang jenderal. Kelima orang tersebut melihat pecahan cermin itu. dan... mereka serempak bilang
TOKOH 2,3,4,5 (AYAH/IBU ADIL, PARANORMAL DAN PAK RT)
(kelima orang tersebut serempak menjawab)
Ya, ya masih-masih. Saya melihatnya.
TOKOH 4 (PARANORMAL)
Saya melihat laki-laki tua, kumis tebal dan bercodet. Jelek sekali dia
TOKOH 5 (PAK RT)
Saya melihat laki-laki tambun, pendek dan botak.
TOKOH 6 (PARANORMAL)
Nah, apa yang kalian lihat sebenarnya itu wajah kalian sendiri. Yang selama ini kalian mengaku yang paling gagah dan baik. Itulah manfaat dari cermin. Agar kalian bisa berkaca diri. Siapa diri kalian sebenarnya.
Keempat orang tersebut menganggu-anggukan kepala. Kini setelah kejadian itu, mereka mengakui kesalahan yang mereka lakukan; mengagungkan diri mereka sendiri. Selalu menganggap bahwa hanya dirinyalah yang sempurna dan memandang rendah orang lain.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar