Langsung ke konten utama

TUHAN DALAM SECANGKIR TEH

   Jika agama kita ibaratkan seperti menyeduh secangkir teh, mungkin tak ada perdebatan di dalamnya. Masing-masing orang memiliki cara yang berbeda, seperti berikut:
  1.  Masukan teh, gula, lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir.
  2.  Masukan teh, menuangkan air panas, kemudian baru masukan gula ke dalam cangkir 
  3.  Menuang air panas ke dalam cangkir, baru kemudian memasukan teh beserta gula ke dalamnya.    

      Ketiga cara tersebut sama-sama menghasilkan secangkir teh dengan rasa yang sama. Begitu juga dengan umat beragama. Meskipun tata cara keagamaan berbeda, tetapi kita berasal dari satu unsur yang sama, yaitu: TUHAN>


Tumiyang, Pekuncen, 16112015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI MBELING (ANTOLOGI BIAR MBELING ASAL ELING) #4

RONG-RONG kain batik kain barong berpakaian rapi ternyata garong mirip legenda si buta terong pegang pistol main todong main petak umpet sembunyi di lorong pura-pura jujur padahal bohong pura-pura loyal padahal merongrong mencuri kabel simpan di gorong-gorong kalau tertangkap malah teriak minta tolong rong, garong, garong wajahnya tampak bengis meski tanpa kumis baiknya pakai mimis untuk memberondong biar tak ada lagi yang suka nyolong biar kapok dan tak main serong. 22102016

PERENUANGAN #2...

METAMORFOSIS Telur -> Ulat -> Kepompong -> Kupu-Kupu Bukan proses yang sederhana. Boleh dikatakan sangat istimewa. Betapa tidak, perjalanan “to be” tersebut begitu panjang; banyak aral rintangan di sepanjang perjalanan. Entah faktor alam atau faktor predator.             Coba perhatikan dengan seksama, ketika masih berwujud telur, bahaya pun mulai mengintai; dari mulai dimangsa serangga atau dimusnahkan oleh manusia. Disaat telur menetas menjadi ulat, kembali cobaan mendera, bisa dipatuk burung dan lagi-lagi peran manusia ikut andil memusnahkannya dengan menyemprotkan cairan beracun. Tak sedikit dari mereka yang mati, namun ada juga diantara mereka yang   dan meneruskan perjuangannya   “to be.”             Meskipun demikian, penderitaan tidak cukup sampai di situ saja. Masih tetap berlanjut saat si ulat melakukan meditasi menyempurnakan wuju...

MENGINTIP DUNIA LEWAT BUKU

      Bertamasya sekaligus berpetualang yang tak butuh banyak biaya bisa dilakukan dengan jalan membaca. Entah itu membaca buku, majalah maupun koran. Namun minat baca dikalangan masyarakat kita masih sangat kurang dibandingkan dengan masyarakat di negara maju. Di sana, orang lebih suka memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca, ketika didalam kendaraan umum, dalam kereta api misalnya. Lain halnya dengan di Indonesia, justru asyik berkutat dengan gadgetnya.      Untuk menumbuhkan minat baca seseorang, bisa dimulai dari keluarga,saat si anak mulai mengenal huruf dan belajar membaca; Orang tua selayaknya menyediakan ruang special dalam rumahnya untuk dijadikan perpustakaan keluarga atau paling tidak menyediakan bacaan bermutu yang disesuaikan dengan tingkatan usia anggota keluarga.      Seseorang yang gemar membaca biasa disebut dengan si Kutu Buku, seringkali di gambarkan dengan sesosok orang berkacamata tebal, rambut licin dan tertata r...